Minggu yang Indah

by - 23:27:00

Setelah tidur selama beberapa jam karena jetlag yang melanda, saya bangun juga. Pagi itu di London udara sangat dingin, saya seperti berada di Puncak tapi dengan suhu yang lebih dingin lagi plus berangin.


Lewisham di Pagi Hari. Langitnya Biru Sekali! I Love It!
Saya langsung beranjak dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi yang berada terpisah dengan kamar tidur teman saya. 

Kamar mandi di London itu rata-rata tidak memiliki bak mandi seperti di Indonesia, di dalamnya kita hanya bisa menemukan bathup, shower, dan wc duduk. Hal itulah yang saya temukan di kamar mandi di tempat teman saya tinggal. Tambahan satu lagi, di dalamnya ada lemari untuk menyimpan peralatan mandi seperti sabun, shampoo dll tetapi sayangnya lemari tersebut sudah agak rusak jadi saya harus ekstra hati-hati untuk membuka lemari tersebut. 

Setelah selesai mandi dan berpakaian, saya menyantap makanan sisa semalam untuk sarapan pagi. Selesai sarapan, saya membeli sim card lokal UK agar bisa berkomunikasi selama di Inggris. Teman saya menyarankan untuk membeli sim card 3 UK karena harganya lumayan murah seInggris :p Sayangnya ketika sim card dipasang di ponsel saya, internetnya tidak aktif. Teman saya sempat mengutak-atik tetapi internetnya tetap tidak bisa aktif entah mengapa. Saya akhirnya menyerah juga dan mengandalkan wifi di tempat teman saya dan di tempat umum yang akan saya temui selama di jalan. Ya sudahlah.

Saya akhirnya menyerah juga dan memutuskan untuk berangkat ke gereja karena tidak kebetulan hari itu hari minggu. Saya sempat janjian dengan Bang Masao untuk beribadah di gereja yang dia tunjukkan di malam sebelumnya. Nama gerejanya All Souls Church. Kalau di Indonesia, gereja ini seperti GPIB. Saya berjalan kaki dari tempat teman saya ke stasiun kereta api Lewisham, naik kereta dari sana turun di stasiun yang saya lupa namanya dan lanjut naik kereta bawah tanah (tube). Sampai di Oxford Circus Station, saya langsung berjalan kaki menuju gedung gereja yang saya tuju. Bentuk gedung gerejanya kerucut, mudah sekali untuk sampai ke sana.



All Souls Church

Sesampainya di sana, ibadah sudah dimulai. Agak malu juga sih, kebiasaan orang Indonesia terbawa sampai Inggris. Begitu saya memasuki gedung gerejanya, saya lumayan terkejut karena ternyata banyak sekali jemaat di gereja tersebut. Selama ini saya dengar cerita orang kalau gereja-gereja di Eropa itu sudah banyak ditinggalkan orang.

Suasana ibadahnya di sana juga khusyuk tidak seperti di Indonesia yang begitu masuk dan duduk di dalam gereja, tangan kita tidak bisa lepas dari ponsel pintar. Saya beribadah selama kurang lebih 1,5 jam. Setelah ibadah selesai saya langsung bertemu bang Masao dan dia mengenalkan saya kepada beberapa orang yang dia kenal di gereja tersebut sembari kami menyantap cemilan dan minuman hangat yang disajikan setelah ibadah.

Selepas gereja, bang Masao mengajak saya ke Kedutaan Besar RI di Indonesia. Di sana ternyata ada ibadah lagi, Ibadah ini diadakan setiap 1 bulan sekali. Entah kebetulan atau tidak, kebaktian itu diadakan ketika saya berada di London :p Thank God

Di situ saya berkenalan dengan banyak orang Indonesia, salah satunya pasangan suami-istri, Bang Abbas dan Kak Eva yang akhirnya menjadi tour guide saya selama di London. Lewat perkenalan singkat kami setelah ibadah di Kedubes itulah, saya memulai perjalanan pertama saya di London.

Di Depan Kedutaan Besar Republik Indonesia di London, the UK


Ceritanya pasangan ini ingin berjalan-jalan setelah ibadah. Sekali lagi, entah kebetulan atau tidak saya pun sama sekali belum merencanakan perjalanan saya selama di London karena jetlag yang masih melanda. Ketika bang Masao bilang kami akan berjalan-jalan bersama, betapa senangnya saya karena saya jadi punya teman jalan.

Tempat pertama yang saya kunjungi di London adalah jam gadang ala London alias Big Ben, yang terkenal dengan bunyi dentingan jamnya yang konon terdengar nyaring seantero London. Tidak jauh dari situ ada London Eye dan Telephone Box yang sudah menjadi ikon kota London. Sayangnya saya tidak sempat menaiki London Eye karena antrian yang cukup panjang dan harga tiketnya cukup mahal.


Bang Masao, Saya, Kak Eva, dan Bang Abbas Dekat Big Ben 


Selesai berfoto di kedua tempat terkenal itu, saya, kak Eva dan bang Abbas berpisah dengan bang Masao karena dia harus kembali ke gereja lagi. Kami melanjutkan perjalanan tanpa bang Masao, kami berjalan kaki menuju Buckhingham Palace. Kami melewati King Charles Street. Di jalan itu terdapat Cabinet War Museum. Sayangnya kami tidak dapat memasuki Museum itu karena hari sudah sore. Museum di Inggris itu tutupnya cepat jadi kalau mau sightseeing ke Museum di Inggris harus dimulai dari pagi hari. Tidak jauh dari situ terdapat monumen peringatan wanita yang terlibat dalam perang dunia II, The Woman of World War II. Dari monumen itu kami melanjutkan untuk melihat parade kuda kerjaan di Horse Guard House. Saya kurang beruntung hari itu, tidak ada parade kuda pada saat itu tapi kekecewaan saya hilang ketika melihat tempat dimana kuda kerajaan Inggris di simpan beserta penjaga kuda tersebut, yang berdiri gagah menjalankan tugasnnya.

Penjaga kuda kerajaan ini mempunyai tugas dan khas yang hampir sama dengan penjaga istana kerajaan Inggris. Mereka tidak boleh bergerak sama sekali ketika bertugas. Sekalipun kita mengajak mereka mengobrol, mereka tidak boeh merespon sama sekali. Ini buktinya.

Berfoto Bersama Penjaga Kuda :p

Setelah selesai berfoto dengan penjaga kuda, kami berjalan kaki kembali menuju Buckingham Palace. Jalan menuju ke sana sangat panjang sekali tetapi rasa lelah dan pegal saya terbayarkan dengan pemandangan dan jalur pejalan kaki yang nyaman sekali. Di Inggris, pejalan kaki tidak perlu khawatir akan di klakson oleh pengendara motor dan tidak perlu takut tersandung kabel atau batu. Di sana jalan pejalan kaki cukup nyaman dan memang dikhususkan untuk pejalan kaki saja dan yang paling penting tidak ada polusi.

Oh iya di sepanjang jalan menuju Buckingham Palace itu ada taman yang sangat besar sekali. That's why saya bilang banyak bunga. Di taman itu terdapat tupai yang berkeliaran layaknya kucing di Jakarta. Lucu sekali. Sayang mereka susah sekali untuk difoto karena mereka sering lompat ke sana kemari.

Parks are Everywhere in London

Tupai Lucu

After long road, saya, kak Eva dan bang Abbas sampai juga di Buckingham Palace! RASANYA SEPERTI MIMPI! Dulu saya hanya bisa melihat dari televisi saja istana Inggris yang super duper megah ini beserta dengan penjaga istananya yang terkenal seantero jagad :p

THANK GOD!

The Famous Palace Guard :)



Buckingham Palace, Bro!

Next, kami berjalan kaki menujut Trafalgar Square. Di situ terdapat Museum National Gallery. Kalau dari cerita kak Eva, di dalam museum tersebut kita dapat melihat berbagai macam lukisan dari pelukis-pelukis terkenal. Sekali lagi sangat disayangkan saya tidak dapat masuk ke dalam karena museumnya sudah tutup.

Ketika saya mengabadikan tempat tersebut dengan kamera saya, saya tiba-tiba ingin mampir di toilet. Thank God toiletnya masih di area Trafalgar Square itu. Untuk masuk ke dalam toiletnya saya harus memasukkan 10 pence. Tidak ada penjaga toilet yang meminta uang seperti di Indonesia. Begini penampakan pintu masuk toiletnya. For your information, toilet di Inggris itu rata-rata tidak menyediakan selang untuk membasuh setelah selesai buang air kecil atau besar. Mereka hanya menyediakan tisu di dalam  toilet so untuk orang Indo yang terbiasa membasuh dengan air, saya sarankan bawalah tisu basah sebanyak-banyaknya.

Selesai menggunakan toilet, saya dan kak Eva keluar menghampiri bang Abbas yang menunggu kami di luar. Dari Trafalgar Square kami kembali berjalan kaki lagi. Perut saya keroncongan dan minta diisi nasi. Kak Eva dan Bang Abbas yang baik hati kembali menemani saya mencari restoran di China Town. Kami sempat melihat beberapa restoran di sana tetapi belum ada yang cocok di perut dan dompet saya.

Ketika kami melewati sebuah supermarket di sana, kak Eva mampir sebentar untuk membeli beberapa bahan masakan. Saya ikut masuk ke dalam supermarket dan lihat apa yang saya temukan :)

Indomie!

Selesai berbelanja, kami kembali mencari restoran lagi dan masuklah kami ke sebuah restoran Mexico tetapi di luar area China Town tepatnya di SOHO. Restoran tersebut bernama Nando's, yang terkenal dengan menu ayamnya.

Saya memesan menu ayam dengan kentang. Kak Eva memesan ayam dengan nasi dan Bang Abbas memesan burger. Sembari menunggu pesanan, tiba-tiba bang Masao kembali menghubungi bang Abbas dan menanyakan keberadaan kami. Kebetulan dia sudah selesai ibadah dan sedang berada di dekat SOHO bersama beberapa temannya. Dia pun menghampiri kami, mengobrol sebentar dan tidak lama pesanan kami datang.

Setelah pesanan datang di meja kami. Kami langsung menyantapnya dengan lahap.

Ini penampakan ayam ala Mexico itu. Kalau tidak salah namanya PEri PEri chicken. By the way, jangan tertipu dengan nasi kuning ala Mexico itu ya. Nasinya beda dengan yang ada di Indo, tasteless :(


Nando's Chicken 


Selesai makan malam ala Mexico, bang Abbas langsung membayarkan makanan tersebut ke waiter. Padahal saya sudah mempersiapkan uang untuk membayar makanan itu. Ah, berkat Tuhan. Terimakasih bang Abbas dan kak Eva.

Kami akhirnya harus berpisah juga hari itu, saya pun kembali ke Lewisham, sendirian, malam-malam. Malam di London tidak seseram yang saya bayangkan sih. Hanya saja saya takut nyasar malam-malam karena saat itu paket internet saya belum aktif.

Namun saya akhirnya kembali ke Lewisham dengan selamat kok dan langsung mempersiapkan diri dan barang untuk besoknya berangkat ke Birmingham untuk menghadiri IATEFL conference. 

What a blessed Sunday!










You May Also Like

0 comments

Give Me Your Comments!