Lesson Learned in Medan

by - 23:16:00

Baru sempet lagi nulis tentang pengalaman pas di Medan kemarin. Maklum ya teman, ada saja kerjaan yang datang. *Sok sibuk*

Kembali ke topik. Saya mau bercerita pengalaman rohani yang saya dapatkan selama saya jalan-jalan di Medan tahun kemarin. Ini adalah tulisan kedua saya tentang perjalanan saya ke Medan. Buat teman-teman yang belum baca tulisan pertama saya, silahkan dibaca dahulu.

Nah, seperti yang saya bilang di atas, saya akan bercerita pengalaman rohani saya selama saya berada di kota gudangnya durian dan orang-orang Batak. Medan membuat saya banyak belajar tentang keluarga. Bagaimana kita harus menjalin komunikasi dan hubungan yang baik dengan keluarga kita. Kebanyakan anak muda sekarang agak sulit menjalin komunikasi dengan orang tua mereka. Itu yang saya lihat di salah satu keluarga saya. Orang tua tidak mau mengerti kemauan sang anak, sedangkan sang anak lelah untuk mencoba memahami apa yang orang tua mau. Akhirnya terciptalah komunikasi yang putus-putus. Ibarat sinyal putus-putus yang membuat kesal si penelepon dan si penerima telepon. Pesan yang ingin disampaikan oleh keduanya menjadi tidak jelas. Gara-gara sinyal yang putus-putus inilah, sang anak (si penerima telepon) berprasangka yang tidak baik kepada orang tua (sang penelepon). Orang tua saya mungkin marah karena pendapat yang saya utarakan tidak sejalan dengan mereka. Mungkin seperti itulah pikiran si anak. Padahal dalam kenyataannya ngga semua orang tua tidak mau menerima pendapat dan kemauan anak mereka. Mungkin ada juga sebagian orang tua yang selalu menolak pendapat dan kemauan si anak, tapi semua itu sebenarnya di lakukan semata-mata untuk masa depan anak tersebut. So, how to solve this problem? Simple answer: orang tua dan anak harus terbuka satu sama lain. Keterbukaan adalah provider yang paling pas untuk dapetin sinyal yang ga putus-putus. Selain itu, orang tua juga harus lebih dekat dengan Tuhan, sehingga orang tua tahu bagaimana harus menjalin komunikasi yang baik dengan anak.

Agak sedih juga melihat anak yang jarang banget berkomunikasi atau ngobrol sama orang tuanya, terutama ngobrol sama papanya. Entah mengapa kalau melihat anak yang seperti itu, rasanya pengen nangis dan kesel. Andai saja mereka tahu rasanya kehilangan orang tua, especially papa. Andai saja mereka tahu rasanya ngga punya papa. Gue mengatakan ini karena gue sudah mengalaminya. Saya sedih saat kehilangan papa saya. Saya kehilangan satu orang yang biasa saya ajak ngobrol tentang masa depan saya dan hal-hal lainnya. Saya berharap bisa mempunyai waktu yang lebih lama untuk hidup bersamanya. Sayangnya banyak anak yang sudah Tuhan kasih cukup banyak waktu untuk bersama orang tuanya, tapi  mereka malah menyia-nyiakan waktu itu.

Saya juga berharap teman-teman yang baca blog ini bisa belajar sesuatu dari apa yang sudah saya share di atas. Kalau saat ini kalian mengalami komunikasi yang kurang baik dengan orang tua kalian baik itu papa atau pun mama kalian, segeralah dekati mereka. Utarakan kemauan kalian. Jangan disimpan terlalu lama karena kita ngga pernah tahu kapan orang tua kita akan dipanggil Tuhan. Jangan sampai penyesalan datang menyerbu hati kalian.


"Andai saja mereka tahu rasanya tidak punya seorang ayah."


You May Also Like

0 comments

Give Me Your Comments!