Kehidupan vs Kematian

by - 23:57:00

Hari ini saya mampir sebentar di kapal salah seorang teman saya. Teman sekaligus saudara saya. Kami satu suku, wajarlah kalau saya menganggap dia saudara saya juga. Mungkin sudah hampir setahun saya tidak pernah bertemu dengannya. Entahlah mungkin karena arah perjalanan kapal kami sudah mulai berbeda.

Sebenarnya sudah beberapa hari ini saya mampir di kapalnya. Beberapa hari yang lalu salah seorang adiknya dinyatakan hilang saat bermain di dekat sungai dan baru tadi pagi jenazahnya ditemukan agak jauh dari tempat kejadian saat adiknya dinyatakan hilang.

Adiknya masih sangat belia, 16 tahun. Saat dimana seorang remaja beranjak dewasa dan ingin mengenal dunia lebih jauh. Tapi sayang di umurnya yang ke-16, dia harus menemukan akhir hidupnya. Sangat disayangkan? Tentu saja. Apalagi hidupnya harus berakhir dengan tragis (maaf... saya tidak menemukan kata yang lebih halus dari kata tsb). Padahal seadainya dia masih hidup, banyak hal yang bisa dia raih. Lulus sekolah, kuliah, kerja dll. 

Source: gettyimages.com


Ketika melihat peti jenazah adik teman saya tsb, saya menjadi berpikir. Do I use my time effectively while I'm alive? Do I do someting for God as long as I live? Do I fullfill God's purpose in my life? Do I? Pertanyaan tersebut menyangkut di pikiran saya. Sejenak saya ingat perkataan kebanyakan orang, "Senang-senanglah selagi muda. Karena banyak hal tidak akan bisa kita lakukan ketika kita menjadi tua." Yeap, they may be right. Mungkin kita tidak bisa melakukan banyak hal ketika kita tua nanti, tetapi apakah perlu bersenang-senang sementara kematian kapan pun bisa menjemput kita? Kematian tidak perduli berapa pun umur kita, apa cita-cita kita, siapa orang tua kita bahkan berapa banyak harta yang kita punya. Kita hanya perlu mempersiapkan diri ketika kematian berada di ambang pintu. Kita harus tahu siapa yang akan bersama kita ketika waktu itu tiba. Kita mungkin ketakutan, tapi kalau kita tahu siapa yang akan menjemput kita di saat waktu itu datang, mungkin kita bisa mempersiapkan diri sebaik mungkin kita selama kita hidup dan hidup hanya untuk Dia bukan untuk yang lain.

Sungguh betapa bersyukurmya saya, kalau akhirnya Tuhan mempertemukan saya dengan teman saya walaupun di tengah kedukaan. Setidaknya saya belajar lagi tentang arti kehidupan.

You May Also Like

2 comments

Give Me Your Comments!